Pemimpin Idaman

"Gotong Royong Membangun Indonesia Tersenyum"

Diskusi Publik di Surabaya: “Permasalahan Kepemimpinan Politik Lokal dan Nasional”

Institut Kepemimpinan dan Sistem Politik Indonesia melanjutkan rangkaian acara diskusi publik yang ketiga di Kota Surabaya. Mengambil tema “Permasalahan Kepemimpinan Politik Lokal dan Nasional”, diskusi publik ini diselenggarakan pada hari Rabu, 28 November 2012 di Ballroom A-B, JW Marriott Hotel-Surabaya.

Masih tetap dimoderatori oleh Bapak Arbi Sanit, guru besar Ilmu Politik UI, diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara. Mereka adalah Bapak Tamrin Amal Tomagola (Sosiolog), Bapak Awad Bahasoan (Pengamat Politik), dan Ibu Siti Zuhro seorang Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI.

Para panelis diskusi

 

Dalam acara diskusi tersebut, Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Tamrin Amal Tomagola menyatakan banyak calon pemimpin andal ada di daerah-daerah, tapi keberadaannya untuk muncul di pentas perpolitikan Nasional selalu terganjal oleh elite politik. ”Ada mutiara terpendam di daerah. Tapi keberadaannya selalu diganjal elite politik,”. Selain itu, lanjut dia, ganjalan lainnya adanya politik dinasti dimana kepemimpinan Nasional diteruskan olah kerabat atau keluarganya yang tidak memiliki keahlian atau rekam jejak yang bisa diandalkan.

“Rayap dulu di bawah (mengawali karir politik dari bawah atau akar rumput), jangan kemudian ujuk-ujuk di atas,” katanya. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya menekankan agar masyarakat cerdas dengan memilih pemimpin muda berintegritas, punya basis akar rumput yang jelas.

Selanjutnya Sosiolog dari Universitas Indonesia tersebut, mengajak masyarakat untuk menolak politikus busuk yang ingin kembali ke gedung DPR/MPR pada pemilu 2014. Menurut Tamrin, dirinya dan sejumlah akademisi lainnya tengah menyusun daftar para calon legislatif busuk yang mesti diharamkan masuk Senayan.

Kriteria politikus busuk yang tidak layak pilih dalam pemilihan umum mendatang, kata Tamrin, ialah yang pernah korupsi, mementingkan dirinya sendiri, dan sering absen ataupun tidur saat sidang-sidang penting membahas nasib rakyat.

“Saya dan kawan-kawan sedang menyusun daftar hitam politikus busuk itu. Bahannya banyak kami dapatkan dari Google,” Tamrin juga mengkritik para politikus dan pemimpin muda yang lahir dari rahim reformasi. Generasi ini, kata dia, ditandai dengan munculnya politikus Senayan berjas, berdasi, dan wangi. Namun dalam bersidang di gedung DPR, mereka juga nyambi berbisnis. “Lihat saja waktu sidang, kan terus-terusan menerima telepon, apalagi kalau tidak sedang mengatur bisnisnya,” ujar Tamrin.

Sebenarnya, ujar Tamrin, selain rahim reformasi, politikus dan pemimpin Indonesia juga pernah lahir dari tiga rahim lainnya. Yakni, rahim gerakan sebelum kemerdekaan, rahim organisasi di bawah kelompok Cipayung, dan rahim Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Menurutnya, hanya pemimpin dan politikus yang lahir dari rahim gerakan pra 1945 yang tidak materialistis.

Suasana diskusi ketika Tamrin Tomagola menyampaikan materinya

 

Selain acara diskusi tersebut, sehari sebelum dan beberapa jam sesudah acara diskusi dilakukan @pemimpinidaman sempat melakukan acara talkshow di dua radio di Kota Surabaya. Yakni di Mercury FM Surabaya pada tanggal 27 November dan di Radio Hard Rock FM Surabya beberapa saat setelah diskusi publik selesai dilakukan. Dalam dua acara talkshow tersebut lagi-lagi Arbi Sanit bertindak selaku moderator sedangkan Awad Bahasoan dan Tamrin Amal Tomagola adalah narasumber.

  
Suasana di Radio Mercury FM Surabaya ketika live interview bersama Arbi Sanit 

 

Salah satu penanya di acara diskusi publik Surabaya

 

Dalam acara diskusi publik ini nampak para peserta lebih antusias untuk datang dan mengajukan pertanyaan. Interaksi yang terjadi bahkan sampai ke dunia social media. Ratusan tweet hari itu hadir sebagai sebuah laporan pandangan mata atas jalannya diskusi. bahkan salah seorang peserta diskusi bernama Uthia Estiane menuliskan pengalamannya mengikuti diskusi ke dalam tumblr-nya. Pengalamannya tersebut bisa sobat idaman baca disini.

Sampai jumpa di acara diskusi publik #pemimpinidaman terakhir di ibukota! Mari kita bersama lakukan sesuatu agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Satu Indonesia, Indonesia Raya!

 

12 Responses to Diskusi Publik di Surabaya: “Permasalahan Kepemimpinan Politik Lokal dan Nasional”

  1. Sabai says:

    Wah, perlu lebih sering nih diskusi publik macam ini dan dilaksanakan di kota-kota lain. Saya setuju, “Mari kita bersama lakukan sesuatu agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Satu Indonesia, Indonesia jaya!”

  2. venus says:

    alangkah bagusnya kalo diskusi publik seperti ini diadain rutin dan lebih merata ya? bukan cuma di kota2 besar seperti surabaya, tapi juga di kota2 kabupaten di seluruh Indonesia. we need a lot more events like this.

  3. ayub ratta says:

    menurut saya permasalahan yang terjadi saat ini pada negara kita disebabkan beberapa faktor sebagai penyebab utamanya, salah satunya adalah kegagalan para elit nasional kita memimpin bangsa ini, dan menurut saya negara kita harus mempunyai Pemimpin yang lahir dari generasi baru, bukan dari generasi lawas pewaris kepemimpinan pola lama, Bukan juga berasal dari individu yang terlibat dan menyangga kepemimpinan masa lalu, melainkan seorang tokoh yang berani, jujur dengan cita-cita perjuangan, memiliki komitmen dan keteguhan terhadap ideologi, ambil contoh di tingkat lokal krisis kepemimpinan politik tampak dalam kinerja kepala-kepala daerah yang minim kreatifitas dan terobosan, dan sebaliknya justru tersandera berbagai kasus hukum akibat korupsi dan penyalahgunaan dana APBD…maka dari itu kita harus mempunyai sosok pemimpin baru yg bisa membawa bangsa kita ke masa yang lebih cerah.!

    twitter: @anak_papamama

  4. Perubahan terhadap permasalahan yg terjadi sekarang baru akan terjadi jika terjadi perubahan kepemimpinan yang cukup radikal, Bangsa ini membutuhkan pemimpin baru. Pemimpin yang menjadi antitesis karakteristik kepemimpinan gaya lama. Tapi tentu saja kepemimpinan baru itu tidak berpola pikir nihilis, Pasti ada sisi-sisi positif yang dihasilkan dari kerja kepemimpinan masa lalu. Hal-hal positif itu tentu saja batu pijakan yang bagus untuk memulai step baru bagi perjalan bangsa ini ke depan Dan Proses kelahiran kepemimpinan baru saat ini sangat memungkinkan dan negara kita Perlu orang yang berani, jujur dengan cita-cita perjuangan, memiliki komitmen dan keteguhan terhadap ideologi dan cita-cita perjuangan, kita ga mau kalo sampai bangsa ini seperti keledai yang Selalu mengulang kesalahan yang sama yg selalu memilih pemimpin bertipe makelar yang hanya mencari untung bagi kepentingan pribadinya sendiri, Pemimpin Indonesia masa depan adalah orang yang bisa membuka kesempatan untuk bagi siapa pun untuk muncul ke pentas nasional. Sebagai pemimpin, pemimpin baru Indonesia masa depan harus menjadi sosok yang berani memberi tantangan dan resiko kepada kader-kadernya. Sebab, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang menjadi sekolah bagi pemimpin generasi selanjutnya…maka dari itu apapun permasalahan kepemimpinan politik lokal maupun nasional saat ini kita harus optimis bahwa negara kita akan mempunyai sosok pemimpin yg kita idam2kan utk kemajuan bangsa ini..

    twitter: @angga_doronth

  5. fajar adi ramdhani says:

    acara diskusi ini sangat menarik dan sangat layak dilaksanakan di berbagai kota. Bagaimana tidak? Diskusi publik ini memberi kita informasi mengenai dunia politik yang sebenarnya sangat perlu kita ketahui.

    Menurut saya, Kepemimpinan tingkat nasional mengalami masalah yang akut. Tidak ada calon pemimpin nasional yang mempunyai tingkat keterpilihan yang tinggi. Semua orang merasa tidak yakin dengan calon yang muncul di media. Mereka ragu diantara yang terbaik dari kelompok individu yang ‘sedang-sedang saja’.

    Padahal masalah sangat menumpuk. Diantaranya, masalah kedaulatan bangsa sering terancam di daerah perbatasan, keamanan begitu buruk karena konflik antara warga dan pemerintah makin tidak terkendali, masalah tanah tidak kunjung selesai, korupsi tidak tertangani, ketahanan pangan tidak bisa diandalkan, energi seringkali bermasalah, kesehatan publik tambal sulam, ada BOS tetapi tidak menjamin sekolah gratis, dan penegakan hukum memble. Masalah yang begitu banyak membutuhkan lahirnya seorang pemimpin baru yang lebih memahami masalah komunitas, jelas itu ada pada pemimpin lokal yang berprestasi. Dekat dengan masalah lokal, punya kepemimpinan, seorang manajer yang tangguh, inovator tanpa henti, terbiasa dengan kompleksitas masalah. Saatnya pemimpin yang sekedar berurusan dengan ide-ide makro, tidak punya jejak di komunitas, penuh pencitraan, tidak perlu didukung.

    Kekuatan pemimpin lokal adalah terbiasa dengan proses partisipasi bersama warganya. Terbiasa dengan sifat responsif bersama warga. Pemimpin lokal yang mempunyai prestasi juga terbiasa melakukan program yang berbasis transparan, akuntabel, akses terbuka untuk informasi, bujet terbuka untuk prosedur pembelanjaan pemerintahan. Sesuatu modal kalau budaya itu dibawa di pemerintahan nasional, akan berdampak signifikan.

    Oleh karena itu, marilah kita pilih pemimpin lokal yang memiliki jiwa pemimpin yang sempurna demi kebaikan bangsa indonesia sendiri
    @fajaramdhanii

  6. Irawan Eddy Riyanto says:

    menurut pendapat saya awal dari Reformasi lah yang menjadikan krisis kepemimpinan dan krisis moral, artinya pada saat itu segera di rubahlah aturan aturan da undang undang yang konon katanya sudah tidak sesuai, dengan jaman atau rezim kepemimpinan politik, sehingga para politikus merubah undan undang dan aturan aturan yang menurut dirinya atau fahamnya tidak sesuai,.
    sehingga timbulah kebebasan berpendapat kebebasan mimbar dan kebebasan yang lain lain …ini tonggak kehancuran aturan yang mengakibatkan kehancuran negara.( Krisis Kepemimpinan dan Krisis Moral).dengan timbulnya partai partai itu juga makin merusak idiologi bangsa.
    Seorang pemimpin pada masa itu sampai dengan sekarang semuanya baik, hanya saja untuk menjalankan kepemimpinan yang lebih baik tidak ada patokan artinya selalu di halangi olah peraturan dan campur tangan politik, mana yang harus dianut ..satu contoh
    1. kalau semua pemerintah mau mengakui ini terjadi dari tingkat kabupaten/kota sampai dengan pusat untuk membuiat anggaran belanja dareah itu harus ada anggaran untuk para DPR (Contoh Kota Semarang yang sial ketahuan)
    2. Untuk membuat peraturan daerah biaya tinggi …untuk para DPR
    ini contoh kecil yang ada didaerah bagai mana seorang pemimpin harus melangkah menurut aturan
    Untuk saat ini saran saya
    1. Perkecil partai partai yang ada sebab menurut aturan syarat membuat partai berapa persen dari penduduk indonesia sekarang kita teliti berapa partai di Indonesia dikalikan jumlah penduduk indonesia apakah itu sah / atu orang akan ikut berapa partai
    2. Perbaiki aturan dan kembalikan pada UUD 45 dan Panca Sila sebagai dasar negara dan idiologi bangsa
    3. Paling extrim kalau hal tersebut tidak bisa maka mari kita sama KUDETA kembalikan bangsa ini untuk kemakmuran dan sebagai bangsa yang santun

  7. deyna says:

    Para ahli yang terhormat,
    Berikut beberapa fakta di lapangan:
    1. Pemimpin formal harus melalui parpol, padahal parpol tidak mengutamakan kepentingan rakyat. (Berapa persen anggota DPR yang berprestasi di masyarakat secara umum?)
    2. Rakyat mayoritas masih lapar, baik perut maupun isi otaknya. Jadi mudah diarahkan untuk mendukung yang mampu bayar ataupun yang memberikan janji akherat, walau mereka hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. (Berapa persen pemilukada semua tingkatan yang bebas politik uang?)
    3. Sistem perundangan kita memang belum mendukung/memfasilitasi keberadaan sistem kepemimpinan ataupun pemimpin yang ideal. (Tolong bantu saya untuk memberikan fakta lapangan terkait penyataan nomor 3 ini, saya bukan ahli hukum dan perundangan)

    Demikian pandangan sederhana yang saya simpulkan dari obrolan masyarakat kelas bawah sampai atas ditambah informasi dari media massa.
    Terima kasih.

  8. Sitti says:

    Assalamualaikum wr.wb. Sebagai warga negara Indonesia sangat prihatin dengan kondisi bangsa yang sepertinya kemabali ke zaman jahiliyah, banyak kemungkaran yang terjadi dengan terjangkitnya penyakit korupsi dan politik yang tidak sehat di tanah air tercinta ini, sehingga masyarakat sangat butuh solusi nyata untuk membantu masalah ini tidak menghancurkan kelangsungan hidup bangsa seperti adanya dialog, diskusi seperti ini, bahkan bisa di dengar di Radio dan kalau bisa usul dari kalangan ibu-ibu dan remaja juga dilibatkan agar tidak buta dalam memilih Pemimpin dan bertambah pengetahuannya, akhir kata sebagai umat Muslim saya hanya dapat berdoa pada Allah, SWT Semoga Bangsa Indonesia kelak dapat memiliki pemimpin dan pejabat yang mampu meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad, SAW dalam memimpin Umat Islam hijrah dari zaman jahiliyah, seperti saat ini. sekian dan terimakasih. Wassalam

  9. Morris Adiputra Lumbantoruan says:

    Menurut Saya, Para Pemimpin Nasional yang ada di Pusat seakan menekan dan tidak memberikan Peluang bagi para Pemimpin Lokal di Daerah untuk Maju menjadi Pemimpin Nasional..

    Padahal Sebenarnya para Pemimpin di tingkat Pusat/Nasional tidak layak lagi memimpin.. Sudah banyak masalah dan persoalan yang membuat para pemimpin di tingkat pusat/nasional kehilangan simpati dari masyarakat..

    Menurut saya, Harus ada perubahan berupa Mobilisasi Pemimpin Lokal menjadi Pemimpin Nasional.. Begitu banyak pemimpin daerah yang mempunyai kecakapan untuk maju menjadi Pemimpin nasional..

    Para Gubernur, Bupati/Walikota banyak yang telah memiliki Prestasi memajukan daerahnya masing-masing.
    Contohnya : Joko Widodo (Walikota Solo), Basuki Tjahaja Purnama (Bupati Belitong), Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulawesi Selatan), Isran Noor (Bupati Kutai), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) , Suyanto (Bupati Jombang)

    Tokoh2 Politik Lokal yang menjadi Pemimpin daerah seperti mereka, Layak dipromosikan untuk menjadi Pemimpin Nasional.. Mereka Terbukti Sukses di daerahnya, dicintai oleh Masyarakatnya, dan memberikan Dampak Positif yang sangat besar bagi daerahnya.

    Pemilu 2014, Penduduk Indonesia Tidak Boleh salah pilih lagi… Karena 5 menit berada di Bilik suara menentukan Nasib INDONESIA untuk 5 Tahun kedepan.. Sudah saatnya menjadi Lebih cerdas untuk memilih.. Memilih untuk masa depan yang lebih baik.. bukan untuk meneruskan kebobrokan yang ada selama ini.. Semoga di Tahun 2014, Para Pemimpin Lokal bisa menjadi Pemimpin Nasional.. :)

    @morris_lt5

  10. Tri Rizkia Adinda says:

    ini acara pasti bermanfaat sekali, saya setuju jika diskusi seperti ini diadakan rutin di beberapa kota.. Mengapa? Karena banyak masyarakat yg blm mengetahui mengenai pentingnya sosok pemimpin yang sesuai dgn keinginan masyarakat, saya pun mengharapkan dengan diadakannya diskusi2 seperti ini, bisa menciptakan banyak raja-raja kecil yang bisa mengharumkan nama bangsa dikemudian hari dgn menjadi pemimpin yg diidamkan rakyat, selain itu semoga acara ini dapat meningkatkan stimulus untuk para pemimpin2 lokal yang memiliki semangat pemimpin yg baik untuk BERANI memimpin rakyatnya dgn lebih baik lagi :)
    @tririzkiaadinda

  11. Warka Syachbrani Abubakar says:

    Kualitas pemimpin negara ini adalah sangat tergantung dari kualitas kita juga sebagai rakyat. Di alam demokrasi ini, kitalah yang memiliki hak untuk memilih dan mendaulat pemimpin kita. Kitalah yang tau mana yang pantas dan mana yang tidak. Tetapi sayangnya, tidak banyak dari kita yang sadar akan hal itu dan umumnya ogah melibatkan diri dalam proses itu untuk memilih yang terbaik dari segala figur yang ada. Malah kita pulalah yang memilih mereka yang sebenarnya tidak mumpuni menjadi pemimpin.

    Kita pulalah yang turut menyuruh mereka korup secara tidak langsung dengan hanya memilih mereka yang membayar suara kita, atau punya hubungan tertentu dengan mereka.

    Forum ini sangat positif menurut saya, ini salah satu langkah untuk turut berpartisipasi dalam menyeleksi sendiri pemimpin kita dengan kualitas yang maksimal. Forum ini juga bisa mengedukasi pemuda (yang banyak aktif didunia maya) untuk bisa peduli dan tidak asal pilih dalam Pemilu.

    Jayalah negeriku!

  12. Darius Leka says:

    Terima kasih Bapak Arbi Sanit, yang mengundang saya dalam acara ini. Dari awal hingga akhir diskusi akhirnya saya berkesimpulan ternyata sungguh terlaluuuu jika sekarang ini sangat susah mendapatkan pemimpin yang berkarakter. Semoga di Institur bapak bisa “melahirkan” mengutip Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Tamrin Amal Tomagola, yang merakyat. Dan saya optimis, ketika Tama Tomagola menyanyakan kepada saya “siap jadi presiden? saya jawab siap! paling tidak bangsa kita tidak menjadi pengimport singkong terbesar. Sukses negriku, jaya bangsaku (Darius Lekalawo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>