Pemimpin Idaman

"Gotong Royong Membangun Indonesia Tersenyum"

Diskusi Publik di Jakarta: “Mencari Solusi Krisis Kepemimpinan Politik Indonesia”

Rangkaian terakhir acara diskusi publik yang diadakan oleh Institut Kepemimpinan dan Sistem Politik Indonesia, akhirnya diadakan di Ibukota Jakarta setelah melalui diskusi publik di tiga kota yang lain. Mengambil tema ”Mencari Solusi Krisis Kepemimpinan Politik Indonesia”, diskusi ini diselenggarakan sehari yang lalu pada tanggal 19 Desember 2012. Bertempat di  Grand Ballroom The Sultan Hotel, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta.

Retno Pinasti dari Liputan6 SCTV membawakan acara diskusi publik ini bersama Bapak Arbi Sanit, guru besar Ilmu Politik UI, yang bertindak selaku moderator. Juga hadir tiga pembicara lain, yakni: Sosiolog Tamrin Amal Tamagola, lalu aktivis politik, Awad Bahasoan dan Syamsuddin Haris, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI.

Para Panelis Diskusi dan Moderator

 

Dalam diskusi publik tersebut dibahas bagaiman mengatasi krisis kepemimpinan nasional, yakni dengan adanya solusi alternatif guna memenuhi kebutuhan rotasi dan regenerasi pemimpin nasional yang kian memprihatinkan. Oleh karenanya, perlu adanya mobilisasi pemimpin lokal ke tingkat nasional sebagai sebuah solusi.
Arbi Sanit mengatakan, saat ini setidaknya ada sejumlah pemimpin lokal telah membuktikan keberhasilannya mengelola penanggulangan masalah kehidupan masyarakat dan daerahnya. ”Sesungguhnya krisis rotasi dan regenerasi pemimpin nasional di era reformasi membuktikan kegagalan demokratisasi sistem partai dan pistem pemilu era reformasi. Sistem kaderisasi parpol gagal menyiapkan calon, dan sistem pemilu gagal meluaskan potensi bakal calon pemimpin nasional,” jelas Arbi kemarin.

Menurut Arbi, faktanya, negara ini telah terlena oleh keberhasilan negara maju dalam melembagakan partai dan pemilu nasional sebagai mekanisme rotasi dan regenerasi pemimpin nasional, sehingga lalai dan mengabaikan inovasi sumber, serta cara lain meskipun bisa memelihara kualitas demokrasi.

“lnovasi mobilisasi pemimpin lokal ke tingkat nasional mempertahankan kualitas demokrasi dengan menapaki alur pencapresan yang dimulai dengan peningkatan tokoh masyarakat menjadi pemimpin politik dan pemerintahan untuk selanjutnya menjadi bakal capres dan capres untuk akhirnya sampai menjadi Presiden,” paparnya.

Bedanya lanjut Arbi, dengan jalur konvensional ialah dengan mengawali jalur tersebut dengan mengambangkan tokoh lokal menjadi tokoh nasional yang sekaligus memenuhi kriteria pemimpin politik nasional.

Arbi menambahkan, jalur dan cara inovatif ini juga mempertahankan kualitas demokrasi, karena mengikuti perkembangan pembentukan sikap rakyat dan atau calon pemilih. Lazimnya, berawal dengan mengenal tokoh masyarakat dan berlanjut menjadi sikap tertarik kepadanya selaku pemimpin politik.

“Untuk kemudian meningkat menjadi sikap dan atau prilaku menerima pengaruh dan kepemimpinan dari pemimpin politik dimaksudkan, untuk memuncak pada tingkah laku memilihnya dalam Pemilu,” kata dia.

Dia menjelaskan, inovasi rotasi dan regenerasi pemimpin politik dan pemerintahan ini, berproses dengan memanfaatkan metode pematangan atau pemasaran kepemimpinan politik dan pemerintahan bersama teknik survei opini publik secara berselingan.

Namun, fase pematangan kepemimpinan dimulai dengan survei tentang karakter penduduk lndonesia sebagai calon pemilih dan kondisi pengenalan mereka atas kepemimpinan tokoh lokal yang siap berkembang menjadi pemimpin politik dan pemerintahan nasional.

Arbi menyebut terdapat beberapa konten pemasaran politik, meliputi profil tokoh, rekam jejak kepemimpinannya, integritas (karakter), visi, popularitas dan gaya kepemimpinan (cerdas, tepat sasaran dan tepat waktu, tegas/konsisten, serta berani dengan risiko terukur).

Suasana Diskusi Publik

Acara kemarin dipenuhi berbagai pertanyaan antusias dari para peserta. Cukup banyak mahasiswa yang hadir dalam dan mengajukan pertanyaan pada acara tersebut. Linimasa akun @pemimpinkeadilan pun penuh dengan live tweet dari para peserta diskusi publik.

Mahasiswi peserta diskusi

Salah satu penanya

Salah satu penanya

Sampai disini rangkaian acara diskusi publik Solusi Kepemimpinan yang sudah diselenggarakan di empat kota. Semoga acara diskusi publik ini bisa menjadi inspirasi pagi para pemimpin lokal untuk tidak ragu maju ke ranah nasional. Semoga acara dan gerakan ini tidak dihentinkan hanya sampai sini saja, tetapi dapat terus berlanjut dan berkelanjutan.

 

Salam Pemimpin Idaman!
Untuk Indonesia Raya!

7 Responses to Diskusi Publik di Jakarta: “Mencari Solusi Krisis Kepemimpinan Politik Indonesia”

  1. Pemasaran politik perlu diajukan dengan adanya analisis dan manajemen.
    Banyak sekali pemimpin yg tidak bisa mewujudkan apa yg sudah direncanakan/sebagai catatan khusus atau hanya sebagai wacana belaka
    @inu_107

  2. Morris says:

    Menurut Saya, di Indonesia telah terjadi Krisis Kepemimpinan di segala Level/Aspek Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.. Banyak Permasalahan Kepemimpinan yang telah dialami oleh Indonesia.. Masalah Utamanya adalah Pemimpinnya yang Itu-itu saja.. Sehingga membuat adanya stagnansi dalam Sistem Kepemimpinan.. Stagnasi Itu juga diperjelas dengan Tersumbatnya Proses dan Rekrutmen Pemimpin yang berasal dari Daerah.. Para Pemimpin yang ada di Tingkat Nasional tetap ingin berkuasa dan seakan tidak memberikan kesempatan bagi Pemimpin daerah untuk Naik kelas mejadi Pemimpin Nasional.. Hal ini juga dipertegas dengan Stigma “Pemimpin Parpol yang harus dicalonkan sebagai Presiden”..Stigma tersebut menyebabkan Rekrutmen Pemimpin dari Daerah menjadi Tersumbat
    Adanya Sentralisasi Kepemimpinan di Tangan Segelintir orang juga turut membuat proses Rekrutmen Pemimpin dan Revitalisasi Kepemimpinan menjadi Terhambat.. Ada kesan apabila Ayahnya menjadi Pemimpin, Maka Anaknya juga pantas menjadi Pemimpin..
    Meskipun Pada Dasarnya Partai Politik yang harus mengajukan Calon Pemimpin, Namun Masyarakat juga sebenarnya berperan penting dalam Menampilkan Sosok/Tokoh Pemimpin yang layak untuk Maju dan Dipilih.. Kenyataannya di Indonesia, Publik hanya memilih nama-nama yang diajukan oleh media dan tidak bisa mereproduksi pemimpin yang berasal dari rakyat.. Hal tersebut diakibatkan oleh Wacana Publik yang tidak berkembang di Masyarakat, sehingga masyarakat sulit untuk mencari Pemimpinnya..Oleh karena itu, haruss ada Sosialisasi dan Edukasi yang dilakukan terhadap masyarakat tentang Proses dan Rekrutmen Lahirnya Pemimpin di Indonesia..
    Indonesia saat ini telah Mengalami Krisis mengenai Stock Pemimpin dan Sulitnya untuk mendapatkan Pemimpin yang memiliki karakter kuat.. Indonesia Butuh Pemimpin yang memiliki Polularitas Alami berdasarkan Tindakan dan Kerja Nyata, dan Bukan Popularitas Semu yang berasal dari Pencitraan Semata.
    Indonesia membutuhkan Sosok pemimpin yang Mampu memahami dan Menelusuri akar Masalah dan Menemukan Solusi untuk Mengatasi Masalah Tersebut..
    :)
    Twitter : @morris_lt5

  3. menarik rasanya ketika pemimpin lokal menjadi harapan dari solusi krisis keteladanan pemimpin Indonesia ditengah munculnya bnyk permasalahan yg menyangkut para pemimpin lokal. Memang tidak semua pemimpin lokal bermasalah, dan sangat bagus jika kita lbh memfokuskan diri pada pemimpin lokal yg berprestasi. Namun, akan berat rasanya mendapat kepercayaan masyarakat awam terhadap pemimpin lokal. Dan inilah yang akan menjadi tugas berat para pemimpin selanjutnya, lokal maupun nasional. Tapi saya yakin, dengan keoptimisan kita bisa bangkit dengan pemimpin yang luar biasa. Amin.

  4. Sebelum kita mencari sosok pemimpin baru sekarang ini,Seharusnyalah bangsa kita mempelajari sejarah pemimpin terdahulu maka akan mengetahui kesalahan dan cara memperbaiki sistem pemerintahan yang salah saat itu…Untuk gali akar masalah lihat perspektif sejarah, pelajari pemimpin dari periode ke periode, setelah itu baru kita cari sosok yg benar2 bisa mengatasi permasalahan sekarang ini dan yg terpenting calon pemimpin tsb harus mempunyai jiwa yg berani,tegas,turun langsung ke rakyat dan yg pasti bersih dari korupsi!

    Twiter: @anak_papamama

  5. Sebelum kita mencari sosok pemimpin baru sekarang ini,Seharusnyalah bangsa kita mempelajari sejarah pemimpin terdahulu maka akan mengetahui kesalahan dan cara memperbaiki sistem pemerintahan yang salah saat itu…Untuk gali akar masalah lihat perspektif sejarah, pelajari pemimpin dari periode ke periode, setelah itu baru kita cari sosok yg benar2 bisa mengatasi permasalahan sekarang ini dan yg terpenting calon pemimpin tsb harus mempunyai jiwa yg berani,tegas,turun langsung ke rakyat dan yg pasti bersih dari korupsi!

    Twitter: @anak_papamama

  6. Amalia Ghassani says:

    saya sependapat dengan Bapak Arbi Sanit yang mengemukakan bahwa calon pemimpin hendaknya dibentuk saat masih menjadi kader/anggota suatu Parpol. Karna seorang pemimpin yang baik, bukan hanya dilihat dari hardskill yang dimilikinya namun juga softskill.
    @ghassaniia

  7. Sabai says:

    Sebenarnya bangsa Indonesia memiliki banyak ‘stock’ calon pemimpin nasional yang mampu membawa rakyatnya lebih maju. Hanya saja yang terjadi selama ini adalah sistem politik dan sistem pemilihan pemimpin itu yang membuat ‘wajah-wajah lama’ muncul lagi, karena mereka punya modal kapital yang sangat besar yang memungkinkan mereka untuk masuk ke bursa pencalonan pemimpin.

    Jadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar sistem pemilihan calon pemimpin ini bisa diperbaiki sehingga melahirkan genuine leaders yang benar-benar tulus memimpin rakyatnya dan didukung sepenuhnya oleh rakyat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>